Indonesia Siap Bikin Bensin dari Batu Bara, China Sudah Lebih Dulu Kembangkan Teknologinya

Nasional11 Views

Pemerintah Indonesia mulai membuka babak baru dalam upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Setelah mendorong pemanfaatan sawit untuk biodiesel, pemerintah kini menyiapkan pengembangan bensin berbahan baku batu bara.

Rencana tersebut mencuat setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa Indonesia akan mengembangkan teknologi untuk menghasilkan bensin dari batu bara.

Langkah ini kemudian mendapat respons dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Ia memastikan pemerintah akan menindaklanjuti arahan tersebut sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional.

Bahlil mengatakan pemanfaatan sumber energi domestik menjadi semakin penting di tengah kondisi geopolitik global yang tidak menentu. Indonesia, menurutnya, perlu mengoptimalkan berbagai sumber daya yang tersedia di dalam negeri agar kebutuhan energi tidak terlalu bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Selama ini batu bara lebih banyak dikenal sebagai bahan bakar pembangkit listrik maupun komoditas ekspor.

Namun, perkembangan teknologi membuka peluang untuk mengolah batu bara menjadi produk turunan bernilai lebih tinggi, termasuk bahan bakar cair.

Teknologi tersebut dikenal sebagai coal-to-liquid (CTL). Dalam prosesnya, batu bara dapat diubah menjadi gas sintetis terlebih dahulu sebelum diproses lebih lanjut menjadi hidrokarbon cair.

Kementerian ESDM menyebut teknologi semacam ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Sejumlah negara telah menggunakannya untuk mengubah batu bara menjadi bahan bakar maupun produk kimia.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno bahkan menyebut Afrika Selatan telah lama menjalankan industri pengolahan batu bara menjadi bahan bakar melalui perusahaan Sasol.

Artinya, tantangan Indonesia bukan semata-mata menemukan teknologi baru, tetapi menentukan teknologi, skala proyek, sumber bahan baku, serta model bisnis yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Menariknya, Indonesia tidak harus memulai seluruh pengembangan teknologi tersebut dari nol.

Bahlil mengungkapkan sejumlah perusahaan asal China telah menawarkan kerja sama untuk mengembangkan pemanfaatan batu bara di Indonesia.

China sendiri sudah memiliki pengalaman panjang dalam mengembangkan teknologi konversi batu bara. Pemanfaatannya tidak hanya diarahkan menjadi bahan bakar, tetapi juga gas dan berbagai produk kimia.

Menurut Bahlil, salah satu peluang yang dapat dikembangkan Indonesia adalah pemanfaatan batu bara berkalori rendah yang jumlahnya cukup besar di dalam negeri.

Dengan teknologi yang tepat, batu bara dengan nilai ekonomi relatif rendah tersebut berpotensi diolah menjadi produk yang mempunyai nilai tambah lebih tinggi.

China menjadi salah satu contoh negara yang agresif mengembangkan hilirisasi batu bara.

Wilayah Mongolia Dalam menjadi salah satu pusat pengembangan industri berbasis batu bara di negara tersebut. Pemerintah setempat mendorong pengembangan teknologi yang mampu mengubah batu bara menjadi minyak, gas, hingga bahan kimia.

Langkah tersebut ditempuh untuk memperkuat pasokan energi domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.

Pengembangan industri tersebut juga terus berlangsung. Pada Mei 2026, pemerintah China menyetujui proyek pengolahan batu bara menjadi olefin di Ordos, Mongolia Dalam, dengan nilai investasi yang dilaporkan mencapai 22,1 miliar yuan. Proyek itu dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 800 ribu ton olefin per tahun.

Pengalaman China menunjukkan bahwa batu bara dapat dimanfaatkan jauh lebih luas daripada sekadar dibakar untuk menghasilkan listrik.

Indonesia sebenarnya mempunyai salah satu modal utama yang dibutuhkan untuk mengembangkan industri tersebut, yakni ketersediaan batu bara.

Pemerintah juga mulai mendorong hilirisasi batu bara berkalori rendah menjadi produk bernilai tambah.

Salah satu proyek yang sedang dikembangkan adalah gasifikasi batu bara menjadi metanol di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Proyek tersebut ditargetkan menghasilkan sekitar 2 juta ton metanol per tahun dengan memanfaatkan sekitar 7,7 juta ton batu bara berkalori 3.400 kcal/kg setiap tahunnya.

Pengembangan tersebut menunjukkan bahwa teknologi konversi batu bara sudah mulai diarahkan menjadi bagian dari industri hilirisasi nasional.

Namun, mengubah batu bara menjadi bensin mempunyai tantangan yang berbeda.

Kemampuan teknis bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah bensin dari batu bara dapat diproduksi secara massal.

Persoalan keekonomian menjadi tantangan besar.

Sejumlah analis menilai biaya pembangunan fasilitas coal-to-liquid dapat sangat besar. Selain investasi awal, keekonomian proyek juga akan dipengaruhi harga minyak, harga batu bara, teknologi yang dipilih, kapasitas produksi, serta biaya pengendalian emisi.

Dengan kata lain, bensin dari batu bara harus mampu bersaing dengan bensin yang berasal dari minyak bumi maupun sumber energi alternatif lainnya.

Kajian yang dikutip Tirto menyebut teknologi CTL memang memungkinkan secara teknis, tetapi keekonomiannya masih menjadi pertanyaan ketika harga minyak dan produk substitusinya berada pada tingkat yang relatif terjangkau.

Ada persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni emisi karbon.

Pengolahan batu bara menjadi bahan bakar cair pada dasarnya merupakan proses intensif energi dan karbon. Karena itu, pengembangan CTL perlu memperhitungkan teknologi pengendalian emisi, efisiensi energi, serta kemungkinan penggunaan carbon capture and storage (CCS).

Hal tersebut menjadi penting karena Indonesia juga tengah menghadapi tuntutan untuk melakukan transisi energi dan mengurangi emisi.

Pemerintah sendiri telah memasukkan teknologi pengendalian emisi dan CCS dalam sejumlah proyek hilirisasi batu bara yang sedang dikembangkan.

Rencana produksi bensin dari batu bara tidak berdiri sendiri.

Pemerintah saat ini juga menjalankan berbagai kebijakan untuk meningkatkan kemandirian energi, mulai dari pengembangan biodiesel berbasis sawit, rencana E50, eksplorasi blok minyak baru, hingga optimalisasi sumur-sumur tua.

Kementerian ESDM menyebut program B50 menjadi salah satu langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor solar. Pemerintah kemudian mulai menyiapkan E50 untuk sektor bensin.

Dalam konteks tersebut, batu bara menjadi salah satu opsi tambahan untuk memperluas sumber bahan baku energi nasional.

Jika pengembangan bensin dari batu bara benar-benar masuk tahap komersial, Indonesia akan memiliki pilihan baru untuk memanfaatkan sumber daya domestik sekaligus mengurangi kebutuhan impor BBM.

Namun, keberhasilannya akan sangat bergantung pada hasil kajian teknologi, biaya produksi, ketersediaan infrastruktur, investasi, dan dampak lingkungannya.

Untuk saat ini, pemerintah masih berada pada tahap menindaklanjuti arahan Presiden dan mengevaluasi berbagai pilihan teknologi serta potensi kerja sama.

Satu hal yang sudah jelas, Indonesia mulai melihat batu bara bukan hanya sebagai komoditas tambang, tetapi sebagai bahan baku yang dapat diolah menjadi produk energi bernilai tambah. Sementara itu, pengalaman China menunjukkan bahwa teknologi tersebut telah dikembangkan lebih dahulu dan dapat menjadi salah satu referensi bagi Indonesia.