Inemuri, Tradisi Tidur di Kantor Jepang yang Tak Selalu Dianggap Malas

Lifestyle222 Views

Tidur saat jam kerja umumnya identik dengan anggapan malas atau tidak profesional. Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya berlaku di Jepang. Di Negeri Sakura, terdapat fenomena budaya yang dikenal sebagai inemuri, yakni kebiasaan tertidur sejenak ketika seseorang tetap berada dalam sebuah aktivitas atau lingkungan sosial.

Inemuri secara sederhana dapat dipahami sebagai “tidur sambil tetap hadir”. Praktik ini dapat ditemukan dalam berbagai situasi, mulai dari perjalanan menggunakan transportasi umum hingga lingkungan kerja, rapat, ruang belajar, dan tempat-tempat umum lainnya.

Fenomena tersebut menjadi menarik karena orang yang tertidur tidak selalu dianggap sedang menghindari pekerjaan. Dalam konteks tertentu, tidur sejenak justru dapat dipandang sebagai tanda bahwa seseorang sedang kelelahan setelah menjalani aktivitas yang padat.

Peneliti budaya Jepang dari University of Cambridge, Brigitte Steger, merupakan salah satu akademisi yang banyak meneliti fenomena inemuri. Dalam kajiannya, tidur di ruang publik di Jepang tidak semata-mata dipahami sebagai perilaku individual, tetapi juga memiliki konteks sosial dan budaya.

Yang membedakan inemuri dengan tidur biasa adalah konsep “tetap hadir”. Seseorang memang memejamkan mata dan tertidur untuk sementara waktu, tetapi secara sosial ia masih dianggap berada dalam aktivitas tersebut. Karena itu, konteks menjadi bagian penting dalam memahami praktik ini.

Di lingkungan kantor, misalnya, seorang pekerja bisa saja tertidur sejenak ketika rapat berlangsung. Namun, penerimaan terhadap perilaku tersebut tidak otomatis berlaku bagi semua orang. Status, usia, posisi dalam organisasi, serta konteks kegiatan dapat memengaruhi apakah seseorang dianggap wajar ketika melakukan inemuri.

Karyawan yang masih baru atau berada di posisi junior umumnya memiliki tuntutan berbeda dibandingkan pekerja yang lebih senior. Dalam sejumlah kajian mengenai inemuri, semakin tinggi posisi sosial atau jabatan seseorang, semakin besar pula toleransi terhadap kebiasaan tersebut.

Budaya kerja juga menjadi salah satu latar belakang penting munculnya fenomena ini. Tidur di tempat kerja dapat dibaca sebagai konsekuensi dari rasa lelah setelah menjalani aktivitas dan pekerjaan yang panjang. Dengan kata lain, seseorang yang tertidur tidak selalu dianggap sedang mengabaikan tugas, tetapi dapat dipandang sebagai orang yang telah mengerahkan banyak tenaga.

Fenomena tersebut juga tidak hanya berlangsung di kantor. Orang Jepang dapat ditemukan tertidur di kereta, taman, kafe, perpustakaan, hingga berbagai ruang publik. Penelitian mengenai inemuri menunjukkan bahwa tidur singkat di ruang publik telah menjadi bagian dari kehidupan sosial yang memiliki konteks tersendiri di Jepang.

Meski demikian, inemuri tidak seharusnya dipahami sebagai pembenaran untuk bekerja sampai kelelahan. Di balik kebiasaan tersebut terdapat persoalan mengenai keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kebutuhan tubuh untuk beristirahat. Karena itu, fenomena inemuri justru memperlihatkan bagaimana masyarakat Jepang memiliki cara tersendiri dalam mempertemukan tuntutan produktivitas dengan kebutuhan tidur.

Menariknya, tidur singkat pada siang hari juga telah menjadi perhatian dalam penelitian mengenai fungsi kognitif. Sejumlah penelitian menemukan bahwa tidur siang dapat memberikan manfaat terhadap aspek tertentu seperti kewaspadaan dan memori. Namun, manfaat tersebut tidak mengubah fakta bahwa kebutuhan tidur malam yang cukup tetap penting bagi kesehatan dan fungsi tubuh.

Pada akhirnya, inemuri bukan sekadar kebiasaan tidur di tengah aktivitas. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana sebuah tindakan yang di banyak tempat dapat dianggap sebagai tanda kemalasan justru memperoleh makna sosial yang berbeda di Jepang. Di balik mata yang terpejam, terdapat konteks budaya, posisi sosial, serta cara masyarakat memandang kerja dan kelelahan.

Dengan demikian, ketika melihat seseorang tertidur di kantor Jepang, konteksnya tidak bisa langsung disamakan dengan tidur saat bekerja di tempat lain. Bisa jadi, orang tersebut bukan sedang meninggalkan pekerjaannya, melainkan tengah menjalani salah satu fenomena budaya yang dikenal sebagai inemuri.