Upaya pencarian korban kecelakaan KM Virgo Transport 8 belum berakhir. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memutuskan memperpanjang operasi Search and Rescue (SAR) selama tujuh hari setelah hingga hari ketujuh masih terdapat ratusan penumpang yang belum ditemukan.
Keputusan tersebut diambil setelah Basarnas melakukan evaluasi bersama berbagai unsur yang terlibat dalam penanganan kecelakaan kapal tersebut. Tim juga berkoordinasi dengan pihak yang menangani operasi salvage atau proses pengangkatan dan penanganan bangkai kapal.
Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo Nur Sasongko mengatakan tambahan waktu pencarian diperlukan karena penanganan kecelakaan masih membutuhkan sejumlah tahapan. Tim ahli dari pihak pemilik kapal juga tengah membahas langkah teknis yang akan dilakukan terhadap bangkai KM Virgo Transport 8.
Menurut Yudhi, proses salvage kemungkinan membutuhkan waktu cukup panjang. Karena itu, Basarnas belum dapat memastikan secara pasti berapa lama seluruh proses penanganan bangkai kapal akan berlangsung. Pembahasan teknis masih dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi kapal dan situasi di lokasi kejadian.
Pada hari ketujuh operasi, jumlah korban yang telah ditemukan mencapai 117 orang. Dari jumlah tersebut, 108 orang berhasil diselamatkan, sementara sembilan orang dinyatakan meninggal dunia. Pada saat keputusan perpanjangan diumumkan, sebanyak 126 orang masih dalam pencarian dari total 243 orang yang tercatat dalam manifes KM Virgo Transport 8.
KM Virgo Transport 8 mengalami kecelakaan setelah berlayar dari Surabaya, Jawa Timur, menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kapal tersebut dilaporkan menghadapi kondisi cuaca buruk sebelum akhirnya mengalami kecelakaan di perairan Masalembo, Laut Jawa, pada 13 September 2026.
Proses pencarian kemudian menghadapi tantangan besar karena kondisi laut dan posisi kapal yang tenggelam. Arus bawah laut yang kuat membuat kegiatan penyelaman tidak dapat dilakukan secara bebas sepanjang waktu. Tim penyelam harus memilih waktu tertentu ketika kondisi arus memungkinkan operasi bawah air dilakukan dengan lebih aman.
Kondisi bangkai kapal juga menjadi salah satu faktor penting dalam pencarian. Karena itu, operasi salvage menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menemukan penumpang yang masih hilang. Pengangkatan atau penanganan posisi kapal diharapkan dapat membuka akses bagi tim penyelam untuk melakukan pencarian di bagian-bagian kapal yang sebelumnya sulit dijangkau.
Perkembangan operasi menunjukkan bahwa pencarian tidak hanya dilakukan dari permukaan laut. Tim gabungan juga mengerahkan penyelam untuk memeriksa bagian dalam badan kapal yang berada di dasar laut. Dalam proses tersebut, sejumlah korban telah ditemukan dari dalam bangkai kapal.
Seiring berjalannya operasi tambahan, jumlah korban yang ditemukan terus berubah. Pada 23 September, misalnya, tim SAR gabungan kembali menemukan satu korban meninggal dunia. Korban tersebut ditemukan setelah sebelumnya dilaporkan hilang dan kemudian dievakuasi untuk menjalani proses identifikasi di RS Bhayangkara Banjarmasin.
Penemuan tersebut menunjukkan bahwa pencarian masih memiliki peluang untuk menemukan korban yang berada di sekitar maupun di dalam bangkai kapal. Basarnas pun terus memperluas dan mengoptimalkan pencarian dengan mengerahkan unsur laut serta peralatan yang mendukung operasi penyelaman.
Dalam perkembangan hingga 23 September, data Basarnas yang dikutip ANTARA mencatat 127 orang telah ditemukan, terdiri atas 108 orang selamat dan 19 orang meninggal dunia. Dengan total 243 orang dalam manifes, masih terdapat 116 orang yang belum ditemukan.
Jumlah tersebut berbeda dari data pada saat perpanjangan operasi diumumkan karena pencarian terus menghasilkan perkembangan baru dari hari ke hari. Setiap korban yang ditemukan kemudian menjalani proses identifikasi sebelum informasi mengenai identitas dan statusnya disampaikan kepada keluarga.
Di tengah operasi yang terus berlangsung, perhatian juga tertuju kepada keluarga penumpang yang masih menunggu kabar. Pencarian dalam kondisi laut yang sulit membuat proses evakuasi membutuhkan waktu dan kehati-hatian. Tim SAR harus memastikan keselamatan personel sekaligus memaksimalkan peluang menemukan korban.
Basarnas bersama unsur gabungan juga terus menyesuaikan strategi berdasarkan kondisi lapangan. Penggunaan kapal pencarian, penyelam, peralatan bawah air, serta dukungan udara dilakukan untuk memperluas jangkauan operasi. Langkah tersebut menjadi semakin penting karena lokasi kecelakaan berada di wilayah laut dengan kondisi yang dapat berubah.
Sementara itu, proses salvage KM Virgo Transport 8 menjadi perhatian karena kondisi bangkai kapal berpengaruh langsung terhadap pencarian di bawah air. Tim ahli yang dikoordinasikan oleh pemilik kapal masih membahas metode dan tahapan yang diperlukan untuk menangani kapal tersebut.
Perpanjangan operasi selama tujuh hari memberikan tambahan waktu bagi tim SAR untuk melanjutkan pencarian sekaligus mengikuti perkembangan proses penanganan bangkai kapal. Basarnas belum menghentikan upaya pencarian dan masih mengerahkan seluruh unsur yang tersedia untuk menemukan penumpang yang belum diketahui keberadaannya.
Kecelakaan KM Virgo Transport 8 menjadi salah satu operasi SAR besar di perairan Indonesia pada September 2026. Dengan jumlah penumpang dalam manifes mencapai 243 orang, proses pencarian membutuhkan koordinasi berbagai pihak, mulai dari Basarnas, TNI, kepolisian, pemerintah daerah, pihak pemilik kapal, hingga unsur masyarakat.
Pencarian kini memasuki fase lanjutan dengan harapan semakin banyak korban dapat ditemukan. Kondisi bangkai kapal, cuaca, arus laut, serta hasil operasi salvage akan menjadi faktor penting dalam menentukan perkembangan pencarian beberapa hari ke depan.
Basarnas memastikan operasi pencarian KM Virgo Transport 8 masih berlanjut. Tambahan waktu tujuh hari menjadi kesempatan bagi tim gabungan untuk kembali menyisir wilayah kecelakaan dan melakukan pencarian di sekitar maupun di dalam bangkai kapal, sementara keluarga korban masih menanti kepastian mengenai nasib anggota keluarganya.












